Belakangan ini beranda akun media sosial saya di ramaikan dengan berita kehebohan status Marissa Haque di Instagram yang di tujukan kepada presenter kondang Feni Rose. Seperti yang kita ketahui jika Marisa Haque merupakan istri dari penyanyi rock legendaris Ikang Fawzi yang sekarang telah menjalin bahtera rumah tangga yang harmonis dan memiliki dua orang putri cantik yang telah dewasa.
Hal yang membuat Marissa Haque sebegitu emosi kepada Feni Rose ternyata karena dalam acara yang bertajuk "Rumpi" yang dipandu oleh Feni Rose tersebut, ditampilkannya foto Ikang Fawzi bersama seorang wanita ketika mereka masih muda dahulu. Wanita tersebut adalah Christine Panjaitan yang tidak lain merupakan penyanyi berbakat dengan lagu hits di eranya yang berjudul "Katakan Sejujurnya" yang ternyata adalah mantan kekasih Ikang Fawzi.
Kali ini saya tidak ingin membahas tentang Ikang Fawzi, Marissa Haque, Christine Pandjaitan maupun Feni Rose. Saya hanya ingin menyampaikan isi hati saya yang kebetulan pernah mengalami hal yang dirasakan oleh Marissa Haque.
![]() |
| Ilustrasi (Foto: shutterstock) suara.com |
Sebagai seorang istri tentunya sah-sah saja jika memiliki sifat cemburu yang masih dalam batas wajar tentunya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak over protektif terhadap pasangan. Tetapi bukan berarti saya tidak bisa cemburu. Saya memiliki rasa cemburu, hanya saja saya tahu kapan harus menunjukkan dan kapan saya harus berdiam diri saja.
Saya dan suami sama-sama saling percaya, saya bisa mengakses HP dan semua gadget milik suami saya tanpa ada batasan begitupun sebaliknya. Saya tahu suami saya join di grup apa saja, mengaktifkan sosmed apa saja. Bahkan email-email yang masuk pun kalau saya kurang kerjaan bisa saja saya baca (tetapi saya masih punya aturan dan tidak mau ikut campur pribadi orang lain walaupun suami saya sendiri terlebih email yang berkaitan dengan pekerjaan). Sampai ketika saya pernah membaca grup di WA HP milik suami saya. Saya mendapati kometar di grup tersebut, awalnya tidak ada yang aneh, tetapi semakin kepo-kepo scroll ke atas, saya menemukan beberapa teman nya membully "suami saya dan mantan kekasihnya dulu" yang kebetulan ada di dalam grup yang sama. Saya tahu kalau ada mantan kekasih suami saya di grup tersebut. Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir, cemas atau baper karena suami saya pernah bilang kalau dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Tetapi dengan adanya bully-bullyan seperti "Ciyeeee" atau bahkan mengungkit sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka di Grup yang kebetulan saya bisa baca, atau mungkin suami wanita itu juga bisa membaca, apakah mereka tidak pernah memikirkan perasaan kami?
Memang, saya sangat percaya kepada suami saya, begitupun sebaliknya. Suami saya pun bilang kalau dia sebenarnya risih jika dibahas lagi tentang masa lalunya. Tetapi dia tidak bisa melarang orang berkomentar.
Saya juga join di beberapa grup yang anggotanya ada yang pernah berstatus "kekasih" tetapi sebisa mungkin kami tidak pernah mengungkit masa lalu mereka, apalagi jika mereka telah berkeluarga.
Bukan bermaksud lebai, baper atau terlalu over protectif terhadap pasangan. Tetapi tolong bayangkan perasaan kami pasangan yang sesungguhnya yang telah bertahun-tahun membina rumah tangga bahagia. Tiba-tiba harus diingatkan kembali kepada cerita-cerita pasangan kami di masa lalu.
Tulisan ini bukan untuk menunjuk pihak manapun, tetapi lebih untuk introspeksi diri lagi agar kita semua bisa lebih bijak lagi dan berfikir dampaknya sebelum berkometar dimanapun itu, apakah akan ada pihak yang tersakiti atau tidak.
Bagaimana jika anda yang mengalami hal seperti saya dan Marissa Haque?
Terima Kasih
Wuri W ^_^

